Subscription Form

Berlangganan newsletter seputar AI, analisa data, dan digital marketing

5 Cara Menyederhanakan Harapan

Ketika saya masih SMK saya selalu berpikir bahwa, ketika saya mencapai usia dewasa, saya harus tahu semuanya. Saya akan memiliki pekerjaan yang saya cintai, teman-teman dekat, dan tempat yang sejuk di beberapa lingkungan dimanapun saya berada.

Impian

Saya tahu persis gaya pakaian saya dan lebih suka memakai jenis furnitur yang saya inginkan di rumah. punya mimpi itu bagus, tapi lebih bagus lagi ” di wujudkan “. hampir putus asa karena dihantam beberapa masalah rumit. satu masalah belum selesai, satu lagi datang dan itu bertubi-tubi. Alhamdulillah perlahan masalah itu mulai memudar. dan kini setidaknya merasa agak lega.

Setiap manusia tentu memiliki impian/harapan dalam hidupnya. hal itu juga untuk memicu semangat dalam menjalani hari demi hari. namun terkadang bahkan tak jarang impian yang di idamkan tak kunjung datang, malah datang berbagai masalah.

Disini saya mencoba menyederhanakan harapan/impian bagaimana cara mewujudkannya. bukan berarti mengurangi semangat, tujuan, tapi lebih meminimalisir rencana, pemikiran, yang hanya membuat kita semakin terbebani.

Sebelum datang ke jakarta, tepatnya masih kelas 2 SMK di Jawa Timur saya punya impian ” kerja sambil kuliah “ . itu artinya segala kebutuhan hidup (kos, makan, biaya kuliah, dsb) harus benar-benar dari hasil jerih payah sendiri (tanpa melibatkan orang lain, termasuk orang tua).

Entahlah sejak impian itu dibuat, Allah mempermudah jalan saya bahkan sampai di Jakarta pun saya tinggal di tempat/rumah mewah (milik saudara). Ketika itu saya tidak pernah memiliki angan-angan besar (bagaimana cara mewujudkannya), saya hanya bisa melakukannya dengan sungguh-sungguh di iringi doa & ikhtiar.

1. Membayangkan masa depan.

Ketika pertama kali punya impian saya baru menyadarinya kelas 2 SMK sekitar Tahun 2006. saat itu impian saya hanya ” kuliah sambil kerja ” dimana ngga ada seorang pun yang saya tahu punya impian seperti itu.

Kebanyakan teman-teman saya setelah lulus SMK ingin bekerja di sebuah perusahaan otomotif, dan sebagian melanjutkan kuliah. Kelas 2 SMK itu artinya butuh setidaknya 1,5tahun lagi (setelah lulus) untuk mewujudkan impian itu.

Dan ternyata jauh sebelum kelulusan penawaran itu datang dari saudara di Jakarta. begitu sampai di Jakarta hampir saja saya lupa impian itu. yang saya tahu hanyalah cari uang dan cari uang.

Barulah selama 6 bulan tinggal di jakarta saya bisa masuk kuliah. Saya merasa sanggup membiayai segala kebutuhan hidup sendiri (kuliah, kos, makan, bensin, pulsa, dan kebutuhan lainnya).

Yang tadinya nebeng di rumah saudara, 6 bulan kemudian saya harus kos dan membiayai hidup secara mandiri. tanpa saya sadari kala itu, hal itu benar-benar terwujud tepat 1,5 Tahun kemudian setelah impian itu dibuat.

2. Pilih prioritas, dan tetapkan itu.

Masa ABG bagi saya sangat menyenangkan. saya diajarkan banyak hal sama orang-orang sekitar betapa pentingnya kerja keras. saudara-saudara adalah orang terpenting dalam hidup saya selama di Jakarta.

Saya di ajarkan agar tidak mengeluh ke sesama manusia, menghilangkan rasa iri/dengki, saling memberi (sedekah), menghargai waktu, pentingnya menjalin hubungan sesama manusia (tanpa membeda-bedakan kaya/miskin, ras/suku, dsb). hal-hal positif tergambar jelas dalam hidup mereka, dan saya harus mencontohnya.

Mengawali hari dengan lari pagi, lalu bersih-bersih rumah, itulah yang saya lakukan setiap hari dipagi hari selama hidup dengan mereka. hal ini menjadi prioritas saya di pagi hari, barulah setelah itu pekerjaan saya. ngga mudah memang untuk mengawalinya karena segala sesuatu butuh pembelajaran.

Bisa karena terbiasa.

3. Ulangi dan Evaluasi.

Saya sadar bahwa apa yang saya inginkan tak selalu berjalan mulus, bahkan hambatan pun selalu ada hingga berujung kegagalan. terkadang kita tetap kekeuh dengan cara A, sedangkan masih ada cara B yang lebih baik. Itulah pentingnya pengulangan dan evaluasi hasil kemarin.

Yang saya maskud pengulangan adalah coba lagi hingga 2x percobaan. jika 2x percobaan sudah gagal itu artinya harus di evaluasi dan pakai cara lain. Sedikit flashback ke masa lalu ketika saya belajar bermain drum (masih kelas 2 SMK). apa yang menjadi motivasi saya hingga harus bisa bermain drum?

Ini sedikit konyol. Kenapa? karena 1 bulan sebelum pentas seni di sekolahan saya harus bisa bermain drum. disini saya dan teman-teman bekerja keras selama satu bulan full untuk membawakan 2 lagu di pentas seni. ya, kami membentuk sebuah grup band.

Band dadakan!

Pertama kali memukul stik drum itu terasa kaku, jumlah ketukan hihat & ketukan snar sama. Anda bisa bayangkan betapa lucunya dengan hal itu? jumlah ketukan hihat & snar normalnya berbeda kalau tidak berarti SALAH.

Saya lakukan hal ini berulang kali bagaimana ketukan hihat & snar bisa berbeda. tahu berapa lama yang saya butuhkan? 7 hari (7 kali latihan) baru bisa lancar! dimana 1x latihan biasanya kami menghabiskan waktu 1-2jam!

Semua kami lakukan secara otodidak (tanpa guru).

fjrdrum

Hanya mengambil beberapa referensi band-band tanah air melalui kanal YouTube dan terkadang TV.

  • Hari pertama, asal mukul drum (itung-itung melemaskan tangan)
  • Hari ke 2, mukul hihat & snar
  • Hari ke 3 – ke 7, saya berhasil memukul hihat & snar dengan ketukan yang sebenarnya.
  • Hari ke 8 – hari ke 15, saya belajar menyelaraskan bass drum, hihat, dan snar.
  • Hari ke 15 – hari ke 20, belajar membuat variasi (memukul tom-tom) dan memukul simbal dengan benar.
  • Hari ke 20 – hari ke 29, belajar membawakan 2 lagu.

Tangan kanan-kiri saya sampai kapalan bahkan sampai keluar darah ditelapak tangan. ya bagi saya saat itu memukul stik butuh tenaga extra. Padahal harusnya santai, tapi itulah yang namanya belajar pasti ada salahnya.

Saya sering mengulangi cara A, dan baru menyadari ada cara B yang lebih baik dan cepat bisa. caranya : pukullah hihat terlebih dahulu untuk melemaskan tangan kanan, jika sudah merasa lemas barulah belajar memukul snar (ditangan kiri).

Bisa karena terbiasa, ahli karena terlatih.

Dan hari yang ditunggu-tunggu akhirnya kami tampil diatas panggung. dan apa yang terjadi? kami gagal di lagu pertama. ya, musiknya berantakan (vokal fals, gitar kacau, bass & drum tidak seirama). sampai-sampai kami di tertawakan banyak orang.

Ini sangat memalukan!

Kemudain di lagu ke-2 di intro pertama kami sudah mulai bisa menata musik. semua senada & seirama. tak ada masalah hingga lagu yang kami bawakan selesai. semua berjalan lancar. Beberapa penonton mengatakan :

Lagu yang kedua sukses bro, ngga kayak yang pertama.

Itu artinya kami berhasil meski di lagu kedua. ini adalah pengalaman pertama saya di panggung musik. menyenangkan sekaligus memalukan! hahaha

4. Sedikit berpikir, lebih banyak bertindak!

Menyelaraskan musik band dalam waktu singkat bukan hal mudah, tapi bukan berarti sulit. kita hanya butuh usaha lebih keras agar bisa menyuguhkan kualitas musik dengan baik. yang saya pikirkan saat itu hanya ” musik & lagunya enak di dengar “.

Kami tidak memikirkan berbagai tehnik, seperti kebanyakan band-band di acara itu. ya, mereka show off (memamerkan skill). drum, bass, dan gitar melodi masing-masing punya waktu untuk show off.

Band-band lain membawakan musik rock, kami membawakan musik pop-alternative.

Minimalisir rencana, dan lebih banyak bertindak. artinya, kita ngga usah muluk-muluk seperti ini-seperti itu. cukup lakukan apa yang ada sekarang, kalau salah tinggal di perbaiki.

Banyak berpikir membuat orang jadi semakin terbebani hingga berujung gagal bertindak. just do it!

5. Beri reward untuk diri sendiri

Kita butuh penghargaan untuk diri sendiri atas kerja keras yang sudah kita lakukan. ngga usah mahal-mahal…

Sederhana saja. misal : setelah berhasil manggung dengan membawakan 2 lagu, saya mau beli bakso paket komplit.

Ya, itu yang saya lakukan saat itu meski memang sudah saatnya harus makan 😛

Maklum anak SMK duitnya masih minta orang tua. Apapun untuk menghargai jerih payah sendiri itu wajib selama hal itu tidak menjadi beban. kan ngga mungkin setelah manggung nanti pengen beli mobil. ya, kalau mampu tak masalah dan itu bagus. coba kalau posisi kita jauh dari kata mampu membeli sebuah mobil? bukankah itu menjadi beban?

Hidup di dunia ini adalah pembelajaran untuk di kehidupan selanjutnya. beri yang terbaik, timbal baliknya juga yang terbaik. Insha Allah 🙂

Subscription After Post (Personal) (#10)

Jarvis - Inovasi Teknologi AI

Manfaatkan solusi praktis menyelesaikan beragam pekerjaan Anda 10x lebih cepat dan efisien. Jarvis AI membantu para Content Writer, SEO, Ads Manager, Data Analyst, Business Intelligence, Copywriter, sampai Tenaga Pendidik. bagaimana caranya?

Akses Jarvis →
Bagikan ke:

Berlangganan Email

Berlangganan newsletter seputar AI, digital marketing, dan analisa data